Sabtu, 13 Mei 2017

Saat kita sedang merasa sakit, kita pasti akan berobat ke dokter agar bisa sembuh. Dokter pasti akan membuatkan resep obat untuk kita tebus di apotek. Obat tersebut harus kita minum sesuai dengan anjuran yang dijelaskan baik oleh dokter maupun apoteker. Walaupun sudah dijelaskan aturan pakainya dan etiket yang tertera pada obat sudah lengkap, akan tetapi terkadang kita masih merasa bingung saat hendak minum obat. 


Anda mungkin pernah mengalami kejadian ketika berobat ke dokter diberi resep obat, setelah di minum obatnya selama beberapa hari tetapi anda tetap tidak sembuh. Mungkin anda berpikir apakah obatnya yang diberikan kurang manjur.  Coba kita tengok kembali, apakah obat yang kita minum sudah benar cara minumnya atau penggunaannya.
Obat merupakan zat yang memiliki 2 sifat yaitu bersifat menyembuhkan dan bersifat meracuni. Obat bersifat menyembuhkan apabila dikonsumsi dengan cara, dosis, waktu dan aturan yang tepat. Sementara, obat bersifat sebagai racun, bilamana kita mengkonsumsinya dengan tidak tepat.


Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat minum obat: 


Periode minum obat
Setiap obat memiliki aturan waktu minum yang berbeda-beda. Hal ini karena sifat kimia fisika dari masing-masing obat yang berbeda-beda. Ada obat yang diminum 1x sehari, 2x sehari, 3x sehari bahkan bisa lebih tergantung dari jenis obat dan kondisi penyakit pasien. Penggunaan obat 1x sehari bisa diminum pagi hari, siang hari atau malam hari. Sebagai contoh, obat tensi (amlodipine) diminum 1x sehari, sebaiknya diminum pagi hari agar bisa mengontrol tensi kita saat kita sedang berkativitas. Obat antikolesterol (simvastatin) juga diminum 1x sehari, tapi pada malam hari, karena metabolism lemak terjadi di saat malam sehingga obat tersebut efektif di minum pada malam hari.
Untuk obat yang diminum 2x sehari bisa diminum pagi dan malam (pagi dan siang atau siang dan malam sesuai petunjuk dokter) atau 3x sehari, (pagi, siang dan malam). Obat yang diminum lebih dari 3x sehari untuk cara minumnya menyesuaikan waktu aktivitas dengan waktu istirahat agar bisa diminum tepat waktu.
Khusus untuk obat golongan antibiotik, antiinfeksi, antijamur serta antivirus, waktu minum obatnya harus tepat, tiap 24 jam sekali, 12 jam sekali, 8 jam sekali atau 6 jam sekali.


Waktu minum obat
Berdasarkan sifat kimi fisika dari tiap obat yang berbeda, pastilah obat memiliki karakteristik berbeda pula. Ada obat yang diminum sebelum makan, ada pula yang diminum setelah makan. Terkadang kita kurang memperhatikan aspek ini, padahal ini sangat berpengaruh terhadap efektifitas obat di dalam menyembuhkan penyakit kita.
Sebenarnya bagaimana makanan dapat mempengaruhi kerja obat? Hasil kerja obat di dalam tubuh manusia sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Mekanismenya bisa terjadi melalui penghambatan penyerapan obat atau dengan mempengaruhi aktivitas enzim di saluran cerna ataupun enzim di hati.
Ada 2 kemungkinan hasil interaksi obat dengan makanan. Ada obat yang berinteraksi dengan makanan dapat menurunkan efektivitasnya, ada juga obat yang dengan diminum bersama makanan dapat meningkatkan efektivitasnya atau mengurangi efek sampingnya pada lambung.


Bacalah aturan pakai dengan seksama, bila diminum sebelum makan, minumlah saat perut kosong (1/4 – 1 jam sebelum makan). Bila diminum sesudah makan maka minumlah saat selesai makan (segera setelah makan atau ½ jam setelah makan). Bila diminum bersama makanan, maka minumlah saat kita sedang makan.


Dosis atau takaran obat
Obat yang dapat menyembuhakan penyakit serta tidak menimbulkan efek samping adalah obat yang diminum dengan dosis atau takaran yang tepat. Untuk dosis obat bisa disesuaikan berdasarkan berat badan atau usia. Sebelum minum obat, perhatikan dengan seksama pada leflet atau etiket obat. Biasanya tertera jumlah obat yang harus diminum untuk sekali pemakaian. Untuk obat dalam bentuk sirup, gunakanlah sendok obat yang disediakan oleh masing-masing obat. Bila tidak tersedia, maka mintalah pada petugas apotek tempat anda membeli obat tersebut.


Untuk obat sirup, jangan menggunakan sendok makan atau teh yang sering kita pakai dirumah karena jumlah takarannya tidak sama dengan takaran menggunakan sendok obat. Umumnya 1 sendok obat/takar setara dengan 5 ml. Sendok makan yang ada dirumah kita kurang lebih sekitar 7ml. Seharusnya 1 sendok makan setara dengan 15 ml. Oleh karena itu, selalu gunakan sendok obat/takar yang sesuai agar kita minum obat dengan dosis yang tepat.
Konsultasikanlah pada dokter atau apoteker bila anda merasa ragu-ragu saat hendak minum obat.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Jumat, 12 Mei 2017

Cinnarizine is a medication derivative of piperazine, and characterized as an antihistamine and a calcium channel blocker, it is also known to promote cerebral blood flow, and so is used to treat cerebral apoplexy, post-trauma cerebral symptoms, and cerebral arteriosclerosis. However, it is more commonly prescribed for nausea and vomiting due to motion sickness  or other sources such as chemotherapy, vertigo, or Ménière's disease. Cinnarizine was first synthesized by Janssen Pharmaceutica in 1955. The nonproprietary name is derived from the cinnamyl substituent on one of the nitrogen atoms, combined with the generic ending "-rizine" for "antihistaminics/cerebral (or peripheral) vasodilators". 




It is not available in the United States or Canada. It is manufactured and marketed in Bangladesh under the trade name Suzaraon by Rephco Pharmaceuticals Limited. It has also been cited as one of the most used drugs for seasickness within the British Royal Navy.

Medical Uses :
Cinnarizine is predominantly used to treat nausea and vomiting associated with motion sickness, vertigo,  Ménière's disease, or Cogan's syndrome. In fact, it is one of only a select few drugs that has shown a beneficial effect in the chronic treatment of the vertigo and tinnitus, associated with Meniere's disease. However, due to increased levels of drowsiness caused by the medication, it is generally of limited use in pilots and aircrew who must be dependably alert. In a clinical study (n=181), treatment with cinnarizine reduced the occurrence of moderate vertigo experience by 65.8% and extreme vertigo by 89.8%.


It acts by interfering with the signal transmission between vestibular apparatus of the inner ear and the vomiting centre of the hypothalamus by limiting the activity of the vestibular hair cells which send signals about movement.  The disparity of signal processing between inner ear motion receptors and the visual senses is abolished, so that the confusion of brain whether the individual is moving or standing is reduced. Vomiting in motion sickness could be a physiological compensatory mechanism of the brain to keep the individual from moving so that it can adjust to the signal perception, but the true evolutionary reason for this malady is currently unknown.

When prescribed for balance problems and vertigo, cinnarizine is typically taken two or three times daily depending on the amount of each dose and when used to treat motion sickness, the pill is taken at least two hours before travelling and then again every four hours during travel. However, a recent 2012 study comparing the effects of cinnarizine to transdermal scopolamine for the treatment of seasickness, concluded that scopolamine was reported as significantly more effective and as having fewer adverse side effects than cinnarizine. This led to the conclusion that transdermal scopolamine is likely a better option for the treatment of motion sickness in naval crew and other sea travelers.

Beyond an anti-vertigo treatment, cinnarizine could be also viewed as a nootropic drug because of its vasorelaxating abilities (due to calcium channel blockage), which happen mostly in brain and the fact that it is also used as a labyrinthine sedative. Cinnarizine inhibits the flow of calcium into red blood cells, which increases the elasticity of the cell wall, thereby increasing their flexibility and making the blood less viscous. This allows the blood to travel more efficiently and effectively through narrowed vessels in order to bring oxygen to damaged tissue. It is also effectively combined with other nootropics, primarily piracetam; in such combination each drug potentiates the other in boosting brain oxygen supply. An animal study comparing the effectiveness of cinnarizine and flunarizine (a derivative of cinnarizine that is 2.5-15 times stronger  for treatment of transient global cerebral ischemia, it was found that cinnarizine helped to improve the functional abnormalities of ischemia, but did not help with damage to the neurons. Flunarizine, on the other hand, offered more neuronal protection, but was less effective in treating subsequent behavioral changes.

Additionally, cinnarizine can be used in scuba divers without an increased risk of central nervous system oxygen toxicity which can result in seizures, and is a high risk in closed-circuit oxygen diving. This is also relevant to divers who could potentially have to undergo hypobaric decompression therapy, which uses high oxygen pressure and could also be affected by any cinnarizine-induced CNS oxygen toxicity risk. However, cinnarizine does not heighten toxicity risk, and in fact, evidence even seems to suggest that cinnarizine may be beneficial in helping delay O2 toxicity in the central nervous system. There is also evidence that cinnarizine may be used as an effective anti-asthma medication when taken regularly. 

Cinnarizine has also been found to be a valuable second-line treatment for idiopathic urticarial vasculitis.

Bagi kami Merron adalah obat yang cerdas...
Untuk Info Pemesanan, Segera Hubungi (email) : infokliksaja@gmail.com 

Terimakasih
Salam Sehat Jiwa dan Raga

Coklat sering diidentikkan sebagai makanan yang kurang sehat, padahal coklat mengandung sejumlah zat gizi yang baik untuk tubuh manusia. Coklat memiliki rasa manis yang khas, sehingga membuat makanan ini hampir dikonsumsi setiap orang di berbagai belahan dunia manapun. Sebagian besar kandungan coklat, terdiri dari berbagai jenis zat seperti berikut : 14% kandungan karbohidrat, 9% protein (terdiri dari zat protein, fenilalanin, asam amino triptofan dan tyrosin), 31% lemak serta zat-zat lain, seperti  alkanoid.

Sejumlah kandungan zat dalam coklat yang begitu beragam inilah yang menjadikan coklat baik dikonsumsi dan juga memberikan dampak baik juga bagi kesehatan.



Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida, yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan, cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah. Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh.

Sedangkan Riklona sendiri adalah 
Golongan obat dari benzodiazepine yang mengandung zat farmasi Clonazepam.
Seperti semua benzodiazepin, clonazepam adalah modulator alosterik GABA-positif.

Penggunaan kronis benzodiazepin dapat mengarah pada pengembangan toleransi dengan penurunan benzodiazepine yang mengikat. Tingkat toleransi yang lebih jelas dengan clonazepam daripada dengan chlordiazepoxide. 

Secara umum, terapi jangka pendek lebih efektif daripada terapi jangka panjang dengan clonazepam untuk sebuah pengobatan. Telah banyak penelitian yang menemukan bahwa toleransi berkembang terhadap sifat antikonvulsan clonazepam dengan penggunaan kronis, yang membatasi efektivitas jangka panjang sesungguhnya adalah sebagai antikonvulsan.

Efek hebat dari clonazepam dapat mengakibatkan perkembangan sindrom penarikan benzodiazepine yang secara tidak langsung akan menyebabkan psikosis dengan ditandai oleh gejala manifestasi dysphoric, lekas marah, agresif, kecemasan, dan halusinasi. 

Oleh karena itulah kami mengurai bahwa Coklat sangat ideal jika dipadukan dengan riklona clonazepam.


Terimakasih
Salam Sehat Jiwa dan Raga

Senin, 27 Maret 2017

Ya. Jika saja salah satu bahkan semuanya sikap ini ada pada Anda; mudah tersinggung, seringkali atau mudah gugup, merasa tidak sabaran bahkan sering emosi (marah-marah) ? Itu tandanya kadar Serotonin Anda mungkin rendah. Apa itu Serotonin? Serotonin adalah: suatu neurotransmiter monoamino yang disintesiskan pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-sel enterokromafin dalam saluran pencernaan. Hormon ini dipercaya sebagai pemberi perasaan nyaman dan senang. 


Serotonin dikenal sebagai kontributor untuk perasaan sejahtera (bahagia), sehingga dikenal juga sebagai “hormon kebahagiaan. Serotonin dalam tubuh manusia disintesis dalam neuron serotonergik pada sistem saraf pusat dimana serotonin memiliki banyak fungsi. Fungsi tersebut diantaranya mengatur mood, nafsu makan, tidur, serta kontraksi otot. Serotonin juga memiliki beberapa fungsi kognitif, termasuk dalam memori (daya ingat) dan belajar. Serotonin disekresikan dari sel enterochromaffin yang kemudian menuju ke darah. Secara aktif serotonin diambil oleh trombosit darah untuk kemudian disimpan. Ketika menggumpal, trombosit akan mengeluarkan simpanan serotonin yang berfungsi sebagai vasokonstriktor dan membantu mengatur hemostasis dan pembekuan darah. Serotonin juga berkontribusi dalam pertumbuhan beberapa jenis sel yang turut berperan dalam penyembuhan luka. Diantara semua fungsi itu, fungsi utama serotonin adalah sebagai neurotransmitter pada susunan saraf pusat di otak. Bila tingkat serotonin di otak berubah, perilaku seseorang juga akan berubah.

Kadar Serotin Rendah

DEPRESI (STRES)


Serotonin dengan kadar normal akan memunculkan perasaan bahagia, tetapi pada waktu tubuh mengalami stres yang berlebihan, tubuh akan mulai menggunakan serotonin lebih banyak untuk mengkompensasi kondisi tersebut. 


Akibat kondisi stres yang meningkat, tubuh tidak mampu menghasilkan serotonin lebih banyak untuk mengganti jumlah serotonin yang terpakai. Tubuh akan mengalami resesi yang dapat mengakibatkan depresi ringan hingga sedang. Semakin rendah kadar serotonin pada otak, maka depresi akan semakin parah.


Berikut adalah gejala kadar serotonin rendah:
Mengalami kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi
Tugas terkecil bisa tampak seperti sebuah tugas yang sangat besar.
Mengalami kelelahan kronis
Mengalami gangguan nafsu makan
Mengalami gangguan tidur
Gairah seksual yang rendah
Harga diri rendah
Menarik diri dari lingkungan sosial



#
Apakah Zypraz Alprazolam atau Alganax Alprazolam dapat membantu ketika tubuh merasa drop, seolah Serotin sedang rendah; mudah tersinggung, seringkali atau mudah gugup, merasa tidak sabaran bahkan sering emosi (marah-marah) ?


Salam Sehat Jiwa

infokliksaja@gmail.com

Ada yang menyarankan agar menumpahkan amarah (katarsis: luapan, curahan, pengosongan) ke objek lain untuk mengatasi amarah. ‘meluapkan amarah dengan meninju sansak atau memukul sofa—sepanjang tidak ada pihak yang terluka—di pandang dapat mengendurkan tekanan akibat gelora amarah sekaligus lambat laun memunahkan penyebabnya.


Namun penelitian Brad Brusman bersama mitra-mitranya pada tahun 1999 menyimpulan metode katarsis justru mengamplifikasi keberingasan seorang (Holloway, 2003). Jadi, diperlukan solusi lain yang lebih efektif, tetapi juga proporsional (adil).


Amarah telah diteliti dari sekian dimensi: filosofis, neurofisiologis, biologis, dan psikologis. Filsuf etika telah memulai diskusi ini sejak masa Yunani awal, terutama Aristoteles. Pakar neurofisiologi menelaah struktur dan fungsi saraf yang terlibat dalam memicu amarah. Pakar biologi memandangnya dari kacamata evolusi Darwin. Sementara pakar psikologi menelaah proses-proses mental dan ekspresi prilaku yang terlibat. Studi tentang amarah masih sangat dini sehingga pertentangan kesimpulan diantara pakar yang menggelutinya menjadi pemandangan biasa. Saya memilih hipotesis yang menyatakan bahwa emosi (termasuk amarah) ditentukan oleh penilaian mental (kognitif) atas stimulus atau situasi. Penilaian mental itu bersifat konkret, segera, tanpa sengaja, dan bukan merupakan buah perenungan (refleksi). Ini pertama kali diajukan Magda B. Arnold. Beliau menetapkan proses kognitif itu berlaku untuk semua emosi (Izard, 2004).


Penilaian (kognisi) adalah proses menimbang-nimbang mengenakan suatu kriteria. Kriteria adalah himpunan nilai-nilai yang dipandang mewakili kebajikan. Nilai-nilai ini ada yang sifatnya instingtif, yakni bawaan dari lahir; juga ada yang sifatnya perolehan, yakni dari aktivitas belajar atau pengalaman. 


Nilai-nilai instingtif inilah yang disebut sebagai pengetahuan asasi, sementara nilai-nilai perolehan adalah pengetahuan norma yang berasal dari keluarga, sosial-budaya (etika), atau firman ilahi. Pengetahuan asasi ditanaman dalam ruh dan bersifat intuitif, pengetahuan norma terutama ditanamkan lewat indra dan nalar.


Penilaian kognitif ‘tanpa sengaja dan bukan merupakan buah perenungan (refleksi)’ yang dimaksudkan Arnold hanya dapat diterapkan pada kriteria instingtif (intuitif), sebab kriteria ini sudah built-in (fitrah), tertanan pada ruh, dan dapat diakses organ otak melalui hati-yang-gaib (qalb). Qalb, sebagai balasan, memberikan respons balik ragawi melalui otak.
Sementara kriteria perolehan (normatif), proses penilaainnya dapat secara sengaja dan melalui perenungan. Kriteria normatif baru bersifat ‘tanpa sengaja’ dan bukan merupakan buah perenungan ‘manakala sudah terpadu dan menjadi ‘perangai’ dari hati-yang gaib (qalb).


‘Proses penilaian’ yang berlangsung dalam qalb terjadi dalam sekelebat, secepat kilat. ‘Penilaian kognitif’ dalam qalb ini diolah berdasarkan kriteria instingtif, yakni karakteristik asasi insani yang tertanam dalam ruh berupa; ada bahagia, identitas-khas, dan benar.
Pemahaman teori Arnold dalam bingkai konsep ruh dan qalb inilah yang memungkinkan kita membagi pemicu amarah ke dalam dua kategori utama: picu intuitif dan picu normatif.


Salam Sehat Jiwa




Seperti ini; Amarah sering kali dipacu gangguan, apakah lelah (fatique), lapar, kesakitan, frustasi seksual, atau masa pemulihan dari sakit; juga perubahan hormonal, seperti PMS (pre-menstrual syndrome (uring-uringan prahaid)),  bersalin atau menopause – (Wikipedia, “Anger”). Pemicu lainnya adalah tekanan mental (stres), yakni seseorang menafsirkan dan menanggapi suatu kejadian dipandang berbahaya atau mengancam ketenangan/ketentraman dirinya (Encarta, “Stres” [Psykology]).


Ada pula yang disebabkan oleh cedera fisik, seperti gegar otak, atau penyakit fisik seperti serangan darah tinggi (stroke); juga penyakit mental, seperti bipolar-disorder (depresi dan histeris, yakni semacam “demam panas-dingin”, tetapi menjangkiti mental). Seluruh potensi pemicu amarah di atas dapat dirangkum dalam satu kata: masalah. Masalah—per definisi—adalah kesenjangan antara realitas dan pengharapan (expectancy). Lelah adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi fit/segar. Sakit adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi sehat. Stres adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi tenang-tenteram. Dan ketahuilah, semua ini saya menyebutnya adalah ‘masalah’. Manusia diciptakan untuk menghadapi kesulitan (“masalah”) demi kesulitan (“masalah”) Namun, akibat karakteristik tergesa-gesanya, ingin serba instan (“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.. ), atau lebih tegas lagi: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir [nirsabar], manusia cenderung tidak menyukai dan menghindari masalah.


Fitrah ini menyebabkan manusia rentan akan serangan amarah. Padahal, Allah sudah menjanjikan tidak akan memberikan “soal” ujian melebihi “spesifikasi rancang-bangun” seorang insan itu sendiri. “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh [kebajikan], Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, merka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal didalamnya, atau yang lebih inspiratif lagi,”.. Yang Maha Kuasa tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Tuhan berikan kepadanya. Yang Maha Kuasa kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” . Bahkan Tuhan mengajarkan, bila menghadapi tekanan masalah, mohonkanlah keringanan ujian.
Meminjam kategori stimulus dalam definisi sres diatas, semua gangguan fisik-mental sesungguhnya dapat dimasukan ke dalam salah satu kategori berikut: apakah stimulus bahaya, seperti gegar otak, serangan darah tinggi; atau stimulus nirtenteram, seperti lelah, lapar, dan sebagainya.


Stimulus bahaya dapat diperluas menjadi stimulus yang membahayakan kesintasan (survivalitas) individu. Sementara stimulus nirtentram dapat diperluas menjadi stimulus yang menjauhkan (mendeviasikan) individu dari kebahagian. Jadi, pangkal stimulus amarah adalah kesintesan dan kebahagiaan.
 

Dengan demikian dapatlah dihipotesiskan bahwa semua masalah hanyalah ilusi dari stimulus amarah sesungguhnya (yang antara lain adalah: kesintesan dan kebahagiaan).

Salam Sehat Jiwa

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

Trace & Tracking

Google+ Badge

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE